Wajit Cililin berwarna cokelat legit dan bungkus daun jagung di atas nyiru bambu

Cililin, Jawa Barat · Sejak 1916

Wajit Cililin

Kisah manis Ibu Juwita dan Ibu Uti — dari dapur sederhana, hajatan kampung, hingga bertahan melewati larangan kolonial Belanda.

Telusuri sejarahnya

Sebuah Warisan Rasa

Lebih dari sekadar kudapan manis.

Wajit lahir dari tangan dua perempuan Cililin yang memadukan beras ketan, gula aren, dan kelapa hasil panen desa mereka. Diolah dengan sabar di atas tungku kayu, kudapan ini tumbuh dari santapan keluarga menjadi buah tangan yang dinanti — dan akhirnya menjadi identitas sebuah daerah.

Bermula
1916
Diwariskan
1926
Bahan utama
3
Ilustrasi dua perempuan Sunda berkebaya mengaduk wajit di atas tungku kayu
Ilustrasi: Ibu Juwita dan Ibu Uti meracik "ketan digulaan", 1916.

Linimasa

Lima babak perjalanan wajit

1916

Awal Eksperimen

Resep wajik Jawa diolah ulang dengan hasil bumi Cililin.

Awalnya Juwita berniat memodifikasi resep kue wajik khas Jawa dengan memanfaatkan melimpahnya hasil panen beras ketan, gula aren, dan kelapa di Cililin. Bersama Uti, kudapan ini awalnya hanya dikonsumsi pribadi.

Babak 1 dari 5

Asal-usul Nama

Bagaimana "wajik" menjadi wajit?

Ketuk setiap tahap untuk melihat bagaimana sebutan kudapan ini bergeser di sebuah hajatan pernikahan.

"Seorang tamu dari Jawa mencicipinya dan berujar bahwa makanan itu mirip wajik. Karena perbedaan pelafalan lidah masyarakat Sunda di Cililin, sebutan tersebut bergeser menjadi wajit."

Beras ketan, gula aren, dan kelapa di atas meja kayu

Hasil Bumi Cililin

Tiga bahan, satu rasa legit.

  • Beras Ketan

    Hasil panen sawah Cililin yang melimpah — dasar tekstur yang pulen dan lengket.

  • Gula Aren

    Memberi warna cokelat gelap dan rasa manis legit yang khas.

  • Kelapa

    Santannya menambah gurih dan aroma yang membuat wajit tak mudah dilupakan.

Para Penjaga Resep

Tiga perempuan di balik wajit

Perintis

Ibu Juwita

Penggagas resep yang memodifikasi wajik Jawa dengan bahan lokal Cililin pada 1916, lalu mewariskannya kepada sang anak.

Sahabat & Rekan Meracik

Ibu Uti

Bersama Juwita menyempurnakan kudapan ini dan menyebarkannya sebagai buah tangan di setiap hajatan kerabat.

Pewaris Resep

Irah — Hj. Siti Romlah

Menerima resep rahasia pada usia 10 tahun (1926), memproduksi secara gerilya, dan membawa wajit menuju komersialisasi luas.